Sab. Jul 2nd, 2022

Indonesia tidak masuk dalam daftar negara yang akan alami kejatuhan ekonomi alias ambruk. Bahkan ekonomi Indonesia diperkirakan malah meroket.

Loh kok bisa?

Gubernur BI Perry Warjiyo menuturkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini diperkirakan mencapai 4,5-5,3% pada 2022 dan tahun depan menjadi 4,7-5,5%. Pertumbuhan seperti sebelum pandemi covid-19, yaitu di level 5%.

“Indonesia kembali pada pertumbuhan di atas 5%,” ujarnya dalam seminar INDEF bertajuk Managing Inflation to Boost Economic Growth, Rabu (15/6/2022)

“Dukungan tidak hanya dari konsumsi domestik, dan stimulus dari fiskal dan moneter. Kondisi eksternal sangat positif. Defisit transaksi berjalan sangat rendah, neraca pembayaran surplus dan cadev tinggi,” papar Perry.

Inflasi, Indonesia berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) berada di level 3,55% (year on year/yoy). BI memperkirakan inflasi hingga akhir tahun mencapai 4,2%.

“Semua kondisi ekonomi kita bagus untuk tahun ini bagus tahun depan,” imbuhnya.

Meski demikian, Perry menegaskan, bukan berarti BI beserta regulator lainnya akan abai atas perkembangan kondisi global. Sederet risiko tetap mengintai perekonomian Indonesia, sehingga langkah antisipatif harus disiapkan.

Antara lain, kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) pada tahun ini sebesar 250 bps menjadi 2,75% dan 2023 naik menjadi 3,25%. Yield US Treasury diperkirakan mencapai 3,3% pada 2022 dan turun menjadi 2,9% pada tahun depan.

“Itu adalah risiko global,” tegasnya.

Selanjutnya adalah risiko krisis pangan dan energi global. Beberapa negara diketahui alami lonjakan inflasi akibat persoalan tersebut. Indonesia masih aman karena pemerintah mensubsidi harga energi dan menambah bantuan sosial.

Kebutuhan pembiayaan juga diantisipasi lebih awal. BI terlibat dalam pembelian SBN secara langsung senilai Rp 224 triliun pada tahun ini, sehingga pemerintah tidak perlu masuk ke pasar keuangan yang sedang alami goncangan.

“Maka dari itu dampak harga komoditas ke inflasi dalam negeri dapat dikendalikan,” terang Perry.

BI merasa tidak perlu menaikkan suku bunga acuan dalam kondisi sekarang. “BI tentu saja tidak harus terpaksa menaikan suku bunga,” ujarnya.

Menurut Perry langkah normalisasi yang dijalankan BI adalah kenaikan giro wajib minimum (GWM) perbankan.

“Kami tetap akan dan sudah melakukan normalisasi. dengan menaikan GWM. bahkan dengan RDG kami percepat normalisasi likuiditas tadi tanpa mengganggu perbankan menyalurkan kredit,” jelasnya.

BI akan tetap terus memantau perkembangan ke depan, khususnya dari sisi global, baik perang Rusia dan Ukraina hingga arah kebijakan moneter negara di dunia.

“Semoga tidak ada kejutan di global dan domestik sehingga pemulihan terus berlanjut. Stabilitas sistem keuangan terjaga rupiah terjaga dan semua menuju Indonesia maju,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.