Sel. Agu 16th, 2022

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Anwar Makarim meminta perguruan tinggi negeri badan hukum (PTNBH) membentuk dana abadi. Nantinya kampus yang berhasil membentuk, meningkatkan, dan menggalang dana dari alumni dan sektor swasta sekaligus kerja sama internasional bakal mendapat insentif dari pemerintah.

Adapun dana kelolaan yang disediakan untuk insentif PTNBH mencapai Rp 7 triliun. Bunga dari Rp 7 triliun yang dikelola LPDP akan disalurkan kepada PTNBH sesuai kriteria tertentu setiap tahun.

“LPDP sudah menyiapkan dana abadi sebesar Rp 7 triliun yang akan disalurkan kepada PTNBH yang berhasil menggalang dana dari masyarakat.

Jadi kita mendorong perguruan tinggi kita untuk membuat dana abadi sendiri,” kata Nadiem dalam Webinar Merdeka Belajar, Senin (27/6/2022).

Berdasarkan proyeksi Kemendikbud, bunga dari prinsipal Rp 7 triliun pada tahun 2022 mencapai Rp 455 miliar. Kemudian pada tahun 2023 mencapai Rp 350 miliar, dan tahun 2024 tumbuh mencapai Rp 500 miliar.

Tingginya bunga pada tahun 2022 ini terjadi karena besaran bunga dan carry over anggaran pada tahun 2021. “Bunga dari Rp 7 triliun setiap tahun akan disalurkan ke PTNBH yang berhasil meningkatkan dana abadinya masing-masing,” jelas Nadiem.

Diberi modal Rp 6 miliar Untuk tahap awal pembangunan dana abadi, setiap PTNBH akan diberikan dana awal Rp 6 miliar. Dana ini merupakan dana alokasi dasar tanpa perlu performa kinerja perguruan tinggi.

Jika perguruan tinggi mampu meningkatkan dana kelolaan dari modal awal Rp 6 miliar, Kemendikbud akan memberikan insentif dari bunga Rp 7 triliun yang dikelola LPDP.

Bunga akan diberikan sesuai dengan seberapa besar peningkatan dana abadi yang dikelola dari tahun lalu dan tahun berjalan. Kemudian, seberapa besar imbal hasil (return) yang didapat perguruan tinggi. Nadiem bilang, besaran insentif juga akan berdasarkan jumlah dan jurusan mahasiswa yang terdaftar di PTNBH tersebut.

“Bukan cuma mahasiswa, tapi mahasiswanya di bidang mana. Misalnya humaniora dibandingkan science. Kita tahu cost (biaya) kira-kira sains per mahasiswa 1,5 kali lipat, karena infrastruktur yang dibutuhkan dan lain-lain. Itu menjadi konsiderasi (besaran) insentif),” ungkap Nadiem.

Menurut Nadiem, praktik pembentukan dana abadi tiap perguruan tinggi mengacu pada praktek internasional di perguruan tinggi kelas dunia. MIT misalnya, menargetkan donasi dari alumni dan swasta pada tahun 2022 mencapai Rp 80 juta dollar AS.

Kemudian NTU menargetkan dana 40 juta dollar AS, dan Harvard Business School sebesar 162 juta dollar AS pada tahun 2021. Biasanya kata Nadiem, target tersebut kerap tercapai tiap tahun, ada sebanyak 40.000 alumni yang menyumbang untuk MIT, dan 1.500 alumni yang menyumbang untuk Harvard Business School.

Di sisi lain, pengelolaan dana abadi dilakukan agar perguruan tinggi tidak hanya mengandalkan dana dari pemerintah pusat dan mahasiswa dari besaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang ditingkatkan tiap tahun.

“Kita harus masih menekan dan memastikan bahwa harga entry poin masuk untuk universitas tuh affordable untuk anak-anak kita. Jadi kita enggak bisa terus naikkin UKT, kita harus mencari jalan lain karena anak-anak dan akses masih menjadi salah satu hal yang penting,” sebut Nadiem.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.